CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS �

Tutorial Membuat Bola Kaca 3D dengan CorelDraw X3

Pernah lihat logo windows vista ?

Gambar kelereng dengan bendera windows

Nah, pada trik kali ini kita akan membuat logo seperti gambar diatas tapi dengan gaya kita sendiri.

Buka dulu CorelDraw X3

Buat halaman baru dengan ctrl+N

Buat gambar lingkaran dengan menggunakan tool ellipse yang berada pada tool box

Tulis nama logo , misalnya logo google


Setelah logo selesai di gambar, gambarkan bayangan cahaya pada kaca di gambar.

Kembali gunakan tool ellipse.

Buat gambar seperti di bawah ini :

Klik pada gambar bayangan kaca kemudian klik kanan, pilih convert to curves (ctrl+Q) kemudian bentuk gambar menggunakan shape tool hingga seperti di bawah ini :

Beri warna putih & Abu abu pada gambar bayangan kaca & biru putih pada gambar lingkaran besar dengan menggunakan fountain fill pada menu fill tool di tool box, atau dengan menekan F11 .

pada fountain fill berikan nilai -90 untuk angle

Beri efek transparan pada gambar bayangan dengan menggunakan interactive transparansi tool, atur hingga membentuk bayangan teransparan seperti pada gambar di bawah ini.


Hilangkan garis lingkaran pada kedua objek gambar, gunakan no outline tool pada tool box


sudah selesai...

export aja jadi jpg..

hasil akhirnya :

tahap Selanjutnya dicoba-coba aja ya!!!!!!!!!1

Read More......

Trans-Alaska Pipeline System

The Trans-Alaska Pipeline System (TAPS) is a major US oil pipeline connecting oil fields in northern Alaska to a sea port where the oil can be shipped to the Lower 48 states for refining.

Alaska_Pipeline_Map_small.png
Map of the pipeline (Larger Version)

Oil was discovered at Prudhoe Bay in 1968. A pipeline was considered the only viable system for transporting the oil to the nearest ice-free port, over 800 miles (1,280 km) away at Valdez. The oil companies with exploitation rights grouped together as the Alyeska consortium to create a company to design, build and then operate the pipeline. US President Richard Nixon signed the Trans-Alaska Pipeline Authorization Act into law on November 16, 1973, which authorized the construction of the pipeline.

The 800 mile route presented special challenges. As well as the harsh environment, the need to cross three mountain groups and many rivers and streams, the permafrost of Alaska meant that almost half of the pipeline's length had to be elevated rather than buried as normal to prevent the ground melting and shifting. There were five years of surveying and geological sampling before construction began.





The single 48 inch (1.22 m) diameter pipeline was built between March 27, 1975 and May 31, 1977 at a cost of around $8 billion. The pipe was constructed in six sections by five different contractors employing 21,000 people at the peak of work, 31 were killed in accidents during construction. There are twelve pump stations, each with four pumps. Usually only around seven stations are active at one time.

Oil began flowing on June 20, 1977. Since then over 13 billion barrels (2 billion m³) have been pumped, peaking at 2.1 million barrels (330,000 m³) per day in 1988. Around 16,000 tankers have been loaded at the Marine Terminal at Valdez. The terminal has berths for four tankers and cost almost $1.4 billion to build. The first tanker to leave the terminal was the ARCO Juneau on August 1, 1977.

The worst spill relating the pipeline was in 1989 when over 260,000 barrels (41,000 m³) were lost by the Exxon Valdez. The highest losses from the pipeline itself was in February 1979 when malicious damage led to more than 16,000 barrels (2,500 m³) leaking out at Steele Creek. From 1977-1994 there were 30 to 40 spills a year on average, the worst years in terms of number of incidents were 1991-1994 when there were 164 spills, although none were major. Since 1995 the number of spills has been sharply reduced with total losses from 1997-2000 totalling only 6.89 barrels (1 m³).

See also: Trans-Afghanistan Pipeline (TAP)

Read More......

Sistem Pada Rig

Sistem rig dapat digolongkan menjadi lima bagian besar :

Hoisting system : fungsi utamanya menurunkan dan menaikkan tubular (pipa pemboran, peralatan completion atau pipa produksi) masuk-keluar lubang sumur. Menara rig (mast atau derrick) termasuk dalam sistem ini.

Rotary system : berfungsi untuk memutarkan pipa-pipa tersebut di dalam sumur. Pada pemboran konvensional, pipa pemboran (drill strings) memutar mata-bor (drill bit) untuk menggali sumur.




Sumber : www.conservation.ca.gov/. ../qh_drill_rig.aspx


Circulation system : untuk mensirkulasikan fluida pemboran keluar masuk sumur dan menjaga agar properti lumpur seperti yang diinginkan. Sistem ini meliputi (1) pompa tekanan tinggi untuk memompakan lumpur keluar masuk-sumur dan pompa tekanan rendah untuk mensirkulasikannya di permukaan, (2) peralatan untuk mengkondisikan lumpur: shale shaker berfungsi untuk memisahkan solid hasil pemboran (cutting) dari lumpur; desander untuk memisahkan pasir; degasser untuk mengeluarkan gas, desilter untuk memisahkan partikel solid berukuran kecil, dsb.

Blowout prevention system : peralatan untuk mencegah blowout (meledaknya sumur di permukaan akibat tekanan tinggi dari dalam sumur). Yang utama adalah BOP (Blow Out Preventer) yang tersusun atas berbagai katup (valve) dan dipasang di kepala sumur (wellhead).



Power system : yaitu sumber tenaga untuk menggerakan semua sistem di atas dan juga untuk suplai listrik. Sebagai sumber tenaga, biasanya digunakan mesin diesel berkapasitas besar.

Read More......

Tujuh perusahaan Berniat Bangun jalur pipa

Sebanyak tujuh perusahaan telah menyatakan minatnya untuk mengikuti tender ruas pipa transmisi gas Cirebon-Semarang dan Gresik-Semarang.

"Perusahaan-perusahaan tersebut sudah mendaftarkan diri mengikuti tender ke BPH Migas," kata Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Tubagus Haryono di Jakarta, Jumat. Ketujuh perusahaan tersebut adalah PT Perusahaan Gas Negara, PT Mueladi, PT Rekayasa Industri, Puncj Lloyd, PT Giga Intrax, PT Agung Mindosungkul dan PT Flour Daniel Indonesia.

Ia menjelaskan, dalam lelang ruas transmisi gas itu, badan usaha pemenang lelang akan ditetapkan sebagai pihak yang berhak membangun jalur pipa transmisi gas bumi pada ruas tersebut dan selanjutnya akan diberikan hak khusus oleh BPH Migas. "Badan usaha ini nantinya yang merencanakan, membangun dan menanggung resikonya. Di samping itu tentu saja dapat mengambil keuntungan dari penyewa pipa sepanjang masa hak khusus dipegang olehnya," kata Haryono.

Dikatakan pula, pemenang lelang adalah bahan usaha yang memiliki kemampuan teknis dan pendanaan yang sanggup menyelesaikan dan mengoperasikan fasilitas tersebut secara efesien. Dengan operasi yang efesien, lanjut Haryono, maka sewa pipa (toll fee) yang akan dipungut dari badan usaha penyewa pipa nilainya rasional dan tidak memberatkan.

Masyarakat (konsumen) gas pun membayar dengan harga yang rasional sehingga semua pihak diuntungkan dengan lelang pipa gas transmisi ini, katanya. Adapun tahapan lelang adalah, pengumuman tender dilakukan pada 2 Juli hingga 6 Juli 2005. Sementara pendaftaran peserta mulai dilakukan pada 7 Juli 2005. Pemasukan dokumen akan dilakukan pada 21 Juli hingga 25 November 2005.






Dokumen yang masuk akan diklarifikasi mulai 28 November hingga 31 Januari 2006. Pemilihan calon pemenang akan dilakukan pada 1 Februari hingga 28 Februari 2006. Pengumuman calon pemenang dilaksanakan pada 1 Maret 2006 dan selanjutnya diharapkan calon pemenang utama bisa diumumkan pada 2 Maret hingga 31 Maret 2006. ant/pur

05 Oktober 2005 PGN bersedia ikut tender pipa gas Kaltim-Jawa PT Perusahaan Gas Negara (PGN) bersedia mengikuti tender pembangunan pipa transmisi gas Kaltim-Jawa. Pasalnya, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) tetap akan menenderkan proyek tersebut.

Direktur Utama PGN WMP Simandjuntak mengatakan, perusahaannya akan tunduk pada setiap keputusan pemerintah. "Kami kan operator," ujarnya di Jakarta kemarin. Karena itu, bila pemerintah menolak memberikan proyek tersebut dan memutuska melelangnya, PGN akan mengikuti lelang ini.

Awal pekan kemarin, PGN mengusulkan agar pembangunan proyek itu dikecualikan dari tender yang diatur BPH Migas. PGN ingin pembangunan pipa transmisi itu ditugaskan pemerintah kepadanya. Usul itu disampaikan melalui surat kepada Menteri ESDM.

Soalnya, PGN bersama konsorsium yang dibentuknya telah mengantongi ijin usaha dari pemerintah. Konsorsium itu telah mengajukan permohonan kepada BP Migas untuk memperoleh pasokan gas dari lapangan gas di Kaltim, yang akan dialirkan melalui pipa transmisi sebesar 7 triliun kaki kubik mulai 2009.

Menurut Kepala BPH Migas Tubagus Haryono, Menteri ESDM belum membuat keputusan atas usulan PGN itu. Kendati pemerintah belum memutuskan, BPH Migas tetap akan melakukan tender proyek pipa transmisi gas Kaltim-Jawa. Tender tidak mungkin ditunda karena akan berdampak pada molornya jadwal pembangunan.

Ia juga menjelaskan, keinginan PGN mengambil alih proyek tersebut tidak didukung ketentuan yang ada. Berdasarkan rencana induk pemerintah, pemipaan gas Kaltim-Jawa termasuk kategori hulu yang bisa digunakan oleh siapapun. Pembangunannya dilakukan oleh Badan Usaha Pemegang Hak Khusus yang diperoleh melalui mekanisme tender.

Karena itu, dalam suratnya, PGN meminta pemerintah mengubah perubahan rencana induk proyek tersebut menjadi pipa kategori hilir. "Tapi rencana kan tidak diubah," kata Tubagus. Karena itu tetap harus dilelang.

Read More......

Sejarah Tebentuknya Minyak

Bagaimana terjadinya minyak dan gas bumi ?

Ada tiga faktor utama dalam pembentukan minyak dan/atau gas bumi, yaitu : Pertama, ada “bebatuan asal” (source rock) yang secara geologis memungkinkan terjadinya pembentukan minyak dan gas bumi.

Kedua, adanya perpindahan (migrasi) hidrokarbon dari bebatuan asal menuju ke “bebatuan reservoir” (reservoir rock), umumnya sandstone atau limestone yang berpori-pori (porous) dan ukurannya cukup untuk menampung hidrokarbon tersebut.

Ketiga, adanya jebakan (entrapment) geologis. Struktur geologis kulit bumi yang tidak teratur bentuknya, akibat pergerakan dari bumi sendiri (misalnya gempa bumi dan erupsi gunung api) dan erosi oleh air dan angin secara terus menerus, dapat menciptakan suatu “ruangan” bawah tanah yang menjadi jebakan hidrokarbon. Kalau jebakan ini dilingkupi oleh lapisan yang impermeable, maka hidrokarbon tadi akan diam di tempat dan tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.

Temperatur bawah tanah, yang semakin dalam semakin tinggi, merupakan faktor penting lainnya dalam pembentukan hidrokarbon. Hidrokarbon jarang terbentuk pada temperatur kurang dari 65 oC dan umumnya terurai pada suhu di atas 260 oC. Hidrokarbon kebanyakan ditemukan pada suhu moderat, dari 107 ke 177 oC.

Apa saja komponen-komponen pembentuk minyak bumi ?

Minyak bumi merupakan campuran rumit dari ratusan rantai hidrokarbon, yang umumnya tersusun atas 85% karbon (C) dan 15% hidrogen (H). Selain itu, juga terdapat bahan organik dalam jumlah kecil dan mengandung oksigen (O), sulfur (S) atau nitrogen (N).
Apakah ada perbedaan dari jenis-jenis minyak bumi ?. Ya, ada 4 macam yang digolongkan menurut umur dan letak kedalamannya, yaitu: young-shallow, old-shallow, young-deep dan old-deep. Minyak bumi young-shallow biasanya bersifat masam (sour), mengandung banyak bahan aromatik, sangat kental dan kandungan sulfurnya tinggi. Minyak old-shallow biasanya kurang kental, titik didih yang lebih rendah, dan rantai paraffin yang lebih pendek. Old-deep membutuhkan waktu yang paling lama untuk pemrosesan, titik didihnya paling rendah dan juga viskositasnya paling encer. Sulfur yang terkandung dapat teruraikan menjadi H2S yang dapat lepas, sehingga old-deep adalah minyak mentah yang dikatakan paling “sweet”. Minyak semacam inilah yang paling diinginkan karena dapat menghasilkan bensin (gasoline) yang paling banyak.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membentuk minyak bumi ?

Sekitar 30-juta tahun di pertengahan jaman Cretaceous, pada akhir jaman dinosaurus, lebih dari 50% dari cadangan minyak dunia yang sudah diketahui terbentuk. Cadangan lainnya bahkan diperkirakan lebih tua lagi. Dari sebuah fosil yang diketemukan bersamaan dengan minyak bumi dari jaman Cambrian, diperkirakan umurnya sekitar 544 sampai 505-juta tahun yang lalu.

Para geologis umumnya sependapat bahwa minyak bumi terbentuk selama jutaan tahun dari organisme, tumbuhan dan hewan, berukuran sangat kecil yang hidup di lautan purba. Begitu organisme laut ini mati, badannya terkubur di dasar lautan lalu tertimbun pasir dan lumpur, membentuk lapisan yang kaya zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan (sedimentary rock). Proses ini berulang terus, satu lapisan menutup lapisan sebelumnya. Lalu selama jutaan tahun berikutnya, lautan di bumi ada yang menyusut atau berpindah tempat.

Deposit yang membentuk batuan endapan umumnya tidak cukup mengandung oksigen untuk mendekomposisi material organik tadi secara komplit. Bakteri mengurai zat ini, molekul demi molekul, menjadi material yang kaya hidrogen dan karbon. Tekanan dan temperatur yang semakin tinggi dari lapisan bebatuan di atasnya kemudian mendistilasi sisa-sisa bahan organik, lalu pelan-pelan mengubahnya menjadi minyak bumi dan gas alam. Bebatuan yang mengandung minyak bumi tertua diketahui berumur lebih dari 600-juta tahun. Yang paling muda berumur sekitar 1-juta tahun. Secara umum bebatuan dimana diketemukan minyak berumur antara 10-juta dan 270-juta tahun.

Read More......

Energi Panas Bumi Menyembur di Sabuga ITB



Pembukaan Seminar Nasional “Panas Bumi Sebagai Sumber Energi Unggulan Jawa Barat” sekaligus Launching Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi dan Launching Program S-2 Panas Bumi ITB di Sabuga ITB, 19 Maret 2008, cukup meriah dengan penampilan group angklung Saung Udjo. Terutama waktu mereka membawakan lagu Bohemian Rhapsody -nya Queen.

Sebenarnya acara sosialisasi dan seminar potensi panas bumi sudah sering sekali dilakukan, tapi sepertinya progress pemanfaatan potensi panas bumi belum banyak beranjak. Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 27.791 MW yang tersebar di 256 lokasi, atau setara dengan 40% dari total potensi panas bumi dunia. Baru 2,73% dari potensi itu yang sudah dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Dari diskusi yang dihadiri perwakilan menteri ESDM, Dirjen Minerba Pabum, Dirut PLN serta akademisi, diungkap beberapa permasalahan yang membuat pemanfaatan panas bumi di Indonesia tersendat: masalah unregulated upstream industry dengan regulated market, pijakan ganda UU Panas Bumi dan UU kelistrikan, perbedaan perspektif Peraturan pusat dan daerah, masalah panas bumi dan hutan lindung, ditambah lagi kekurangseriusan pemerintah dalam menjalankan roadmap mix energy.





Berdasarkan roadmap pemanfaatan panas Bumi Indonesia, target sebesar 2.000 – 3.000 MW di tahun 2008 dan 2012 sebenarnya sangat kecil ungkap Prof. M.T Zen, salah satu nara sumber. Beliau mengusulkan bahwa target kecil itu harus menyimpan harapan besar yakni: memicu industri energi pada umumnya, khususnya industri peralatan pembangkit listrik, meng-establish-kan Indonesia menjadi Negara terkemuka di dunia dalam geothermal technology, serta sebagai strategi jangka panjang dalam ketahanan energi Indonesia.

Pada sambutan acara ini, Rektor ITB memaparkan peran ITB dalam membantu pengembangan panas bumi dengan menyumbangkan inovasi dan modal insani. Salah satu langkah nyatanya adalah dengan melaunching Program Studi Magister Teknik Panas Bumi. Meski dari pengakuan Prof. M.T. Zen, sebenarnya langkah ini juga terhitung lambat, karena jauh hari sebelumnya sebenarnya ITB sudah ditawari bantuan akademis dari New Zealand untuk membangun program studi teknik panas bumi sebagai estafet dari New Zealand yang akan mem-phase out program studi panas buminya.

Untuk lebih mengembangkan penelitian di bidang panas bumi, Prof M.T. Zen mengusulkan pola Energy-Grant University, dengan mengambil analogi dari Land Grant University di USA. Intinya ITB diserahi pengelolaan salah satu sumur geothermal, misalnya di Kamojang, atau ladang geothermal lainnya. Dana yang diperoleh dari pengoperasian sumur ini akan dipergunakan untuk mengembangkan kreativitas pemanfaatan geothermal melalui R&D yang benar.

Andai seluruh potensi panas bumi dimanfaatkan, sebenarnya sudah cukup untuk mengganti semua pembangkit listrik terpasang di Indonesia, sekitar 26.000 MW. Urgensi akselerasi pemanfaatan panas bumi makin mendesak seiring menanjaknya harga minyak dunia yang menembus harga US$ 100/barrel. Ini berarti bahwa harga listrik geothermal makin bisa berkompetisi.

Pemprov Jawa Barat yang memiliki 21,9% potensi panas bumi Indonesia, telah melakukan beberapa langkah percepatan pengembangan pemanfaatan energi panas bumi, dari mulai melakukan survey pendahuluan di Tangkupan Perahu, Tampomas, Cisolok-Sukarame, Sangkan Hurip dan Papandayan, sampai pengusulan penerbitan WKP oleh DESDM yang telah menghasilkan diterbitkannya 3 WKP, yakni WKP Tangkupan Perahu (potensi 100 MW), WKP Tampomas (potensi 48 MW) dan WKP Cisolok (potensi 50 MW). Pelaksanaan proses lelang terbuka 3 WKP di Pemprov Jawa Barat yang dilaunching sekarang ini diharapkan bisa memberi semangat akselerasi pemanfaatan panas bumi di Indonesia.

Sebagai penutup, saya kutipkan epilog dari Prof. M.T. Zen: “Wahai Bangsa Indonesia, mulailah belajar berencana jangka panjang. Membangun bangsa bukan “proyek” sepuluh-lima belas tahun. Ia merupakan perjalanan panjang tanpa akhir. Diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya. Ini berarti berusaha bukan untuk pribadi atau keluarga. Melainkan untuk Bangsa!”


Read More......

Cementing

Mengapa sumur harus disemen ?

Penyemenan sumur digolongkan menjadi dua bagian :

Pertama, primary cementing, yaitu penyemenan pada saat sumur sedang dibuat. Sebelum penyemenan ini dilakukan, casing dipasang dulu sepanjang lubang sumur. Campuran semen (semen + air + aditif) dipompakan ke dalam annulus (ruang/celah antara dua tubular yang berbeda ukuran, bisa casing dengan lubang sumur, bisa casing dengan casing). Fungsi utamanya untuk pengisolasian berbagai macam lapisan formasi sepanjang sumur agar tidak saling berkomunikasi. Fungsi lainnya menahan beban aksial casing dengan casing berikutnya, menyokong casing dan menyokong lubang sumur (borehole).

Kedua, remedial cementing, yaitu penyemenan pada saat sumurnya sudah jadi. Tujuannya bermacam-macam, bisa untuk mereparasi primary cementing yang kurang sempurna, bisa untuk menutup berbagai macam lubang di dinding sumur yang tidak dikehendaki (misalnya lubang perforasi yang akan disumbat, kebocoran di casing, dsb.), dapat juga untuk menyumbat lubang sumur seluruhnya.

Semen yang digunakan adalah semen jenis Portland biasa. Dengan mencampurkannya dengan air, jadilah bubur semen (cement slurry). Ditambah dengan berbagai macam aditif, properti semen dapat divariasikan dan dikontrol sesuai yang dikehendaki.

Semen, air dan bahan aditif dicampur di permukaan dengan memakai peralatan khusus. Sesudah menjadi bubur semen, lalu dipompakan ke dalam sumur melewati casing. Kemudian bubur semen ini didorong dengan cara memompakan fluida lainnya, seringnya lumpur atau air, terus sampai ke dasar sumur, keluar dari ujung casing masuk lewat annulus untuk naik kembali ke permukaan. Diharapkan seluruh atau sebagian dari annulus ini akan terisi oleh bubur semen. Setelah beberapa waktu dan semen sudah mengeras, pemboran bagian sumur yang lebih dalam dapat dilanjutkan.




Untuk apa directional drilling dilakukan ? Secara konvensional sumur dibor berbentuk lurus mendekati arah vertikal. Directional drilling (pemboran berarah) adalah pemboran sumur dimana lubang sumur tidak lurus vertikal, melainkan terarah untuk mencapai target yang diinginkan.

Tujuannya dapat bermacam-macam :
Sidetracking : jika ada rintangan di depan lubang sumur yang akan dibor, maka lubang sumur dapat dielakkan atau dibelokan untuk menghindari rintangan tersebut.
Jikalau reservoir yang diinginkan terletak tepat di bawah suatu daerah yang tidak mungkin dilakukan pemboran, misalnya kota, pemukiman penduduk, suaka alam atau suatu tempat yang lingkungannya sangat sensitif. Sumur dapat mulai digali dari tempat lain dan diarahkan menuju reservoir yang bersangkutan.
Untuk menghindari salt-dome (formasi garam yang secara kontinyu terus bergerak) yang dapat merusak lubang sumur. Sering hidrokarbon ditemui dibawah atau di sekitar salt-dome. Pemboran berarah dilakukan untuk dapat mencapai reservoir tersebut dan menghindari salt-dome.
Untuk menghindari fault (patahan geologis).
Untuk membuat cabang beberapa sumur dari satu lubung sumur saja di permukaan.
Untuk mengakses reservoir yang terletak di bawah laut tetapi rignya terletak didarat sehingga dapat lebih murah.
Umumnya di offshore, beberapa sumur dapat dibor dari satu platform yang sama sehingga lebih mudah, cepat dan lebih murah.
Untuk relief well ke sumur yang sedang tak terkontrol (blow-out).
Untuk membuat sumur horizontal dengan tujuan menaikkan produksi hidrokarbon.
Extended reach : sumur yg mempunyai bagian horizontal yang panjangnya lebih dari 5000m.
Sumur multilateral : satu lubang sumur di permukaan tetapi mempunyai beberapa cabang secara lateral di bawah, untuk dapat mengakses beberapa formasi hidrokarbon yang terpisah.

Pemboran berarah dapat dikerjakan dengan peralatan membor konvensional, dimana pipa bor diputar dari permukaan untuk memutar mata bor di bawah. Kelemahannya, sudut yang dapat dibentuk sangat terbatas. Pemboran berarah sekarang lebih umum dilakukan dengan memakai motor berpenggerak lumpur (mud motor) yang akan memutar mata bor dan dipasang di ujung pipa pemboran. Seluruh pipa pemboran dari permukaan tidak perlu diputar, pipa pemboran lebih dapat “dilengkungkan” sehingga lubang sumur dapat lebih fleksibel untuk diarahkan.

Read More......