CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS �

Efek Gelas

Written By Steve Patterson

In this Adobe Photoshop tutorial, we're going to look at a classic Photoshop effect for wedding photography, placing the wedding couple inside a wine glass. This is a very easy Photoshop effect to create, requiring nothing more than a few basic tools, a layer mask, and a few minutes worth of effort. We'll be finishing off the effect with a slightly more advanced blending option, but "more advanced" definitely doesn't mean "more difficult", as we'll see.

If you're not into wedding photography, you can use this Photoshop technique to place images inside any glass object, like a bottle or even an hour glass, and it also works great for placing images inside bubbles which is always a fun thing to do.

Any recent version of Photoshop will work just fine.




Here's the two images I'll be using in this Photoshop effects tutorial:

Adobe Photoshop tutorial Photoshop effects image
Photoshop Tutorials: The wedding couple.
Adobe Photoshop tutorial Photoshop effects image

Photoshop Tutorials: The wine glass.

And here's the final result we'll be working towards:

Adobe Photoshop tutorial Photoshop effects image

Read More......

Perlunya “Geographical source based energy policy”

Indonesia merupakan negara kepulauan terdiri atas ribuan pulau serta sangat beragam kandungan sumberdaya alamnya. Demikian juga kandungan sumberdaya energi alamiah masing-masing daerah ini sangat beragam. Alam memiliki cara tersendiri untuk menyebarkan kemakmuran dengan menebar berbagai macam sumberdaya untuk daerah-daerah tertentu. Sayangnya manusia sering malas untuk menyelami bagaimana alam ini sudah membuat distribusi dengan lebih sempurna.

Berita dibawah ini perlu dicermati :

PLN Teruskan 10 Proyek PLTU
MinergyNews.Com, Jakarta
Adapun PLTU proyek PLN yaitu, PLTU Jabar Selatan (2×300 MW), PLTU Jabar Utara (2x 300 MW), PLTU Jatim Selatan (2x 300 MW), PLTU Labuan (300 MW), PLTU Marunda (600 MW), PLTU Rembang (2 x 300 MW) PLTU Suralaya (2x 600 MW), PLTU Teluk Naga (2 x 300 MW), PLTU Awar-awar (600 MW) dan PLTU Paiton Baru (2x 600 MW).

Berita diatas seolah sebuah berita penambahan daya PLN utk kebutuhan di Jawa, namun sayangnya pembangkit-pembangkit yg dibangun ini harus mendatangkan sumber bahan bakarnya dari daerah lain. Batubara sebagai sumber bahan bakar PLTU ini harus didatangkan dari Kalimantan. Tentusaja dengan adanya proses pengangkutan serta pemindahan bahan bakar ini akan menyebabkan menurunnya efisiensi pemanfaatan energi.





Dengan melihat hukum fisika saja sudah terlihat bahwa pengangkutan akan membutuhkan energi, dan saya pastikan pengangkutannya menggunakan BBM. Rasanya kebijakan menyeluruh soal energi sangat memerlukan perlunya “Geographical source based energy policy”. Kebijakan pemanfaatan energi disesuaikan dengan ketersediaannya secara geografis.

Peta-peta energi yang telah saya tampilkan ditulisan sebelumnya disini sebelumnya sangat jelas menunjukkan adanya distribusi sumber-sumber alam energi.

  • - Sumatra Utara terdapat sumberdaya alam gas bumi dan geothermal.
  • - Sumatra tengah merupakan sumber penghasil minyakbumi. Tentunya pembakaran minyak mentah-pun akan cukup untuk membangkitkan energi listrik di daerah ini.
  • - Sumatra Selatan juga merupakan lumbung minyak serta gasbumi.
  • - Pulau Jawa merupakan tempat berkumpulnya energi Geothermal dan juga gas alam di Jawa Barat dan Jawa Timur.
  • - Pulau Bali, Pulau Lombok dan Pulau Nusa Tenggara merupakan tempat berkumpulnya sumber daya energi geothermal.
  • - Kalimantan merupakan tempat deposit batubara.
    dst

Dengan demikian pembangunan PLTU – pembangkit listrik tenaga uap di Jawa merupakan tindakan yang sangat tidak tepat. Pembangunan PLTU ini akan justru mengurangi pemanfaatan potensi Geothermal di Jawa nantinya. Nilai keekonomiannya akan menjadi bias dan nantinya hanya akan menyatakan “terlanjur” yg hanya akan disesali dikemudian hari.

Dengan demikian sangatlah perlu adanya “Geographical source based energy policy” di Indonesia yg memiliki kondisi geologi-geografi yang sangat beragam.



Read More......

PIPA



Desain perpipaan mencakup pemilihan diameter, tebal, dan material yang akan digunakan. Diameter pipa dipilih berdasarkan kapasitas alir yang diperlukan untuk mengirim fluida dari sumur minyak atau gas.

Untuk pipa bertekanan tinggi atau pipa laut dalam, grade material yang digunakan biasanya X-60 atau X-65 (414 atau 448 MPa), kecuali untuk pipa berdiameter besar. Grade yang lebih rendah seperti X-42, X-52, atau X-56 digunakan untuk air dangkal, tekanan rendah, atau diameter pipa besar (untuk mereduksi biaya material).

Ada beberapa tipe pipa, yaitu :

. Seamless

. Submerged arc welded (SAW or DSAW)

. Electric resistance welded (ERW)

. Spiral weld





Pipa tipe seamless dan SAW sering digunakan. Untuk diameter 12 in atau lebih rendah, tipe seamless biasanya menjadi pilihan utama. Jika pipa tipe ERW yang digunakan, diperlukan perlengkapan inspeksi khusus, seperti full body ultrasonic testing. Pipa spiral weld jarang digunakan untuk minyak/gas dan hanya digunakan untuk air dengan tekanan rendah.

Penentuan ketebalan dinding pipa didasarkan pada tekanan internal desain atau tekanan hidrostatik eksternal. Peningkatan ketebalan dinding pipa kadang-kadang menjamin stabilitas hidrodinamika sebagai pengganti metode stabilisasi (seperti weight coating).

Bai (2001) merekomendasikan prosedur untuk mendesain ketebalan dinding pipa :

Langkah 1 : Menghitung ketebalan minimum dinding pipa berdasarkan tekanan internal desain.

Langkah 2 : Menghitung ketebalan minimum dinding pipa berdasarkan tekanan eksternal.

Langkah 3 : Menambahkan corrosion allowance pada dinding pipa.

Langkah 4 : Memilih ketebalan dinding.

Langkah 5 : Mengecek ketebalan dinding untuk hydrotest.

Langkah 6 : Mengecek untuk penanganan praktis (pipa dengan D/t > 50 sulit ditangani, pengelasan dengan dinding pipa <>

Desain perpipaan biasanya merujuk pada ASME B31.4 (ASME, 1989), ASME B31.8 (ASME, 1990), and DnV 1981 (DnV, 1981). ASME B31.4 untuk pipa minyak di North America. ASME B31.8 untuk pipa gas dan fluida dua fasa di North America. DnV 1981 untuk pipa minyak, gas, dan fluida dua fasa di North Sea.

Sumber : Offshore Pipelines, Boyun Guo, Shanhong Song, Jacob Chacko, Ali Ghalambor, Gulf Professional Publishing, Oxford, 2005

Read More......

PENGEBORAN

Di kegiatan industri migas upstream terdapat dua operasi utama yang dapat menimbulkan dampak pada lingkungan, yaitu pengeboran dan produksi. Keduanya menghasilkan limbah dalam volume yang signifikan. Pengelolaan lingkungan memerlukan pemahaman mengenai limbah-limbah ini dan bagaimana mereka dihasilkan.

Pengeboran (drilling) merupakan proses pembuatan lubang ke dalam tanah agar hidrokarbon yang berada di bawah tanah mengalir ke permukaan. Limbah yang dihasilkan selama pengeboran adalah batu (cutting) yang disisihkan untuk membuat lubang, fluida untuk mengangkat cutting ke permukaan, dan bahan-bahan lain yang ditambahkan ke fluida untuk mengatur sifat fluida agar sesuai dengan kondisi batuan yang akan dibor.

Produksi merupakan proses di mana hidrokarbon yang mengalir ke permukaan diolah dan digunakan. Air sering ada bersama-sama hidrokarbon. Air mengandung banyak kontaminan, mencakup hidrokarbon (terlarut dan tersuspensi) serta materi organik (seperti padatan terlarut dan tersuspensi). Sejumlah chemical juga digunakan selama produksi untuk memastikan operasi berjalan efisien.

Selama kegiatan pengeboran dan produksi, sejumlah polutan diemisikan ke udara. Sumber utama polutan adalah emisi dari combustion engine. Sumber lainnya relatif sedikit, seperti fugitive emission dan aktivitas remediasi.



PENGEBORAN

Proses pengeboran sumur minyak dan gas menghasilkan berbagai jenis limbah. Ada yang merupakan hasil samping alamiah (seperti cutting), ada juga yang berasal dari materi yang digunakan untuk mengebor sumur (seperti drilling fluid dan zat aditif).

1. Sekilas Proses Pengeboran

Sebagian besar sumur minyak dan gas dibor dengan menekankan drill bit ke batuan dan memutarnya hingga batuan hancur. Rig dan sistem pengeboran didesain untuk mengontrol bagaimana drill bit menekan batuan, bagaimana cutting disisihkan dari sumur dengan drilling fluid, dan bagaimana memisahkan cutting dari drilling fluid sehingga drilling fluid dapat digunakan kembali.

Dampak primer dari kegiatan pengeboran adalah cutting dan drillling fluid untuk mengangkat cutting dari sumur. Dampak sekundernya adalah emisi dari internal combustion engine untuk menggerakkan rig.

Selama pengeboran, fluida diinjeksikan ke drill string dan melalui lubang kecil pada drill bit. Drill bit dan lubangnya didesain agar fluida dapat membersihkan cutting dari bit. Fluida, dengan cutting yang tersuspensi di dalamnya, mengalir kembali ke permukaan melalui anulus di antara drill string dan formasi. Di permukaan, cutting dipisahkan dari fluida. Cutting kemudian ditempatkan di pit untuk pengolahan lebih lanjut dan dibuang. Sedangkan fluida diinjeksikan kembali ke drill string.

Fluida dasar (base fluid) yang umum digunakan pada proses pengeboran adalah air, lalu minyak, udara, natural gas, dan foam. Jika base fluid-nya cair (baik oil-based maupun water-based), disebut mud (lumpur). Penggunaan water-based drilling fluid sekitar 85% di seluruh dunia.

Selama proses pengeboran, sebagian mud kemungkinan masuk (lost) ke formasi di bawah tanah yang permeabel. Untuk memastikan ketersediaan mud, tambahan mud disediakan di permukaan, ditempatkan di mud pit. Ukuran mud pit bervariasi, bergantung pada kedalaman sumur. Luasnya bisa mencapai 1 acre (+ 0,4 ha) dengan kedalaman hingga 3 m. Tangki baja bisa juga digunakan untuk mud pit, khususnya untuk operasi di offshore. Pit juga digunakan untuk menyimpan persediaan air, limbah cair, cutting, rigwash, dan runoff air hujan.


Sumber : Environmental Control In Petroleum Engineering, John C. Reis, Gulf Publishing Company, Houston, 1996

Read More......

Instalasi Rig

Pertama tentunya para investor yakni perusahaan pengeboran (Oil Drilling Company) akan melongok bola kristal alias meramal kemungkinan proyek pengeboran pada masa mendatang. Sebuah perkerjaan yang membutuhkan kerja mirip intel sebab selalu balapan karung dengan pihak kompetisi.

Lalu bila memang sudah ada lampu hijau, dibuat sebuah maket agar para awam dan orang kaya yang tidak mau dipusingkan dengan gambar teknik akan mudah untuk memvisualisasikannya.

Dan seperti tampak pada gambar di bawah ini adalah saat pengerjaan sebuah rig. Biasanya dibangun badan atau kotak besi untuk ruang akomodasi. Atau orang bilang “hull” kapal.

Kemudian meningkat pembuatan kolom-kolom rig yang separuhnya akan terendam kedalam laut namun tidak sampai menyentuh dasar laut (melayang) sehingga dari sini datang nama “semi submersible“

Untuk perbandingan antara sedang Rig Pengeboran (kiri) yang sedang dibangun dan yang sudah siap tempur (kanan).

Kapal pengeboran jenis ini adalah kelas “Jumbo Jet” dalam dunia aviasi. Sewanya mahal sehingga hanya perusahaan bonafid yang mampu memanfaatkannya.

Kisah penemuan rig jenis ini sangat sederhana, pernah saya ceritakan sebelumnya. Mereka membuat miniatur, lalu diapungkan disebuah kolam renang tetangga karena mereka belum setenar sekarang. Bahkan karyanya diejek, disingkirkan karena terlalu berbahaya. Penemunya harus kesana kemari mencari dana untuk mewujudkan cita-citanya. Sekarang semuanya berubah drastis. Dunia masih bisa bersinar karena kapal pengeboran mampu menjelajah ketengah laut sementara orang lain masih tidak memikirkannya.

Read More......

Logging

Mengapa pengerjaan logging dilakukan ?

Logging adalah teknik untuk mengambil data-data dari formasi dan lubang sumur dengan menggunakan instrumen khusus. Pekerjaan yang dapat dilakukan meliputi pengukuran data-data properti elektrikal (resistivitas dan konduktivitas pada berbagai frekuensi), data nuklir secara aktif dan pasif, ukuran lubang sumur, pengambilan sampel fluida formasi, pengukuran tekanan formasi, pengambilan material formasi (coring) dari dinding sumur, dsb.

Logging tool (peralatan utama logging, berbentuk pipa pejal berisi alat pengirim dan sensor penerima sinyal) diturunkan ke dalam sumur melalui tali baja berisi kabel listrik ke kedalaman yang diinginkan. Biasanya pengukuran dilakukan pada saat logging tool ini ditarik ke atas. Logging tool akan mengirim sesuatu “sinyal” (gelombang suara, arus listrik, tegangan listrik, medan magnet, partikel nuklir, dsb.) ke dalam formasi lewat dinding sumur. Sinyal tersebut akan dipantulkan oleh berbagai macam material di dalam formasi dan juga material dinding sumur. Pantulan sinyal kemudian ditangkap oleh sensor penerima di dalam logging tool lalu dikonversi menjadi data digital dan ditransmisikan lewat kabel logging ke unit di permukaan. Sinyal digital tersebut lalu diolah oleh seperangkat komputer menjadi berbagai macam grafik dan tabulasi data yang diprint pada continuos paper yang dinamakan log. Kemudian log tersebut akan diintepretasikan dan dievaluasi oleh geologis dan ahli geofisika. Hasilnya sangat penting untuk pengambilan keputusan baik pada saat pemboran ataupun untuk tahap produksi nanti.

Logging-While-Drilling (LWD) adalah pengerjaan logging yang dilakukan bersamaan pada saat membor. Alatnya dipasang di dekat mata bor. Data dikirimkan melalui pulsa tekanan lewat lumpur pemboran ke sensor di permukaan. Setelah diolah lewat serangkaian komputer, hasilnya juga berupa grafik log di atas kertas. LWD berguna untuk memberi informasi formasi (resistivitas, porositas, sonic dan gamma-ray) sedini mungkin pada saat pemboran.

Mud logging adalah pekerjaan mengumpulkan, menganalisis dan merekam semua informasi dari partikel solid, cairan dan gas yang terbawa ke permukaan oleh lumpur pada saat pemboran. Tujuan utamanya adalah untuk mengetahui berbagai parameter pemboran dan formasi sumur yang sedang dibor.

Read More......

Membuat Logo Sony Ericsson


ni bwat memperingati hari lahirna dremi.info 05 mei 2005, tepat bulan ini 05 mei 2008, ultah yang ke - 3 . gw mao bikin tutorial khusus bertema sony ericsson series.


karena kecintaan gw ma label sony ini, untuk session pertama tutorial sony ericsson series ini gw mao bikin logona dlu.


wuki... mudah2an bisa mirip ma yang asli na hihik... :D


bwat dokumen .. ukuran seperluna sajah.. gw pake shapping elipse tool




kasi style na:








bwat layer baru, ambil tool brush, untuk dasarna gunakan warna hijau muda, ukuran brush: 50-70 px, mode: normal


untuk yang kedua kalinya ubah ukuran brush menjadi 30 px, tapi kali ini kurangi opacityna menjadi 60%, dengan warna putih



gunakan dodge tool untuk nerangin bagian brush na



bwat satu elipse lagi di tengah na, dengan gradasi ke gini:



mode radial, tarik dari kiri atas ke kanan bawah:



kembali bikin layer baru, gunakan brush warna hijau muda, bwat nerangin bagian gradasi hijau di kiri atasna.



brush yang kedua menggunakan warna putih



untuk bikin lingkaran elipse di atasna gw kasi lagi shape sama besar, dengan style gradasi radial abu-putih



bikin satu elipse lagi diatasna, tapi kali ini gunakan mode shape substract (atow sambil nge-shape pencet ALT)



klik objek substract shape na make path selection tool, biar bisa ditransform rotate [baru CTRL+T], miringin dlu biar ke gini:



edit point na make convert point tool, atur biar ke gini:




bwat satu lagi elipse, tapi kali ini harus hati hati... dalam mengatur titik path na, gunakan convert point tool juga.






kasi gradasi abu putih bwat latar na



woke, gw cuma kasi efek bayangan refleksi aja, duplikat dan transform vertical



kasi gradasi transparent bwat bayangan smooth



apus dikit layer duplikat bayangan na pake eraser tool



gw kasi text na, jadi dah..


Sony Ericsson Logo



uhuii... mudah2an setelah ini tutorial gw ga di kopi sembarangan, kalo mau ngopi, author link dan statement di footer na jangan dihapus yaa

© Copyright 2008 www.dremi.info
Original Post: Sony Ericsson Logo Category: Interface
About the Author: dr.emi is a free man to distribute anything that he was founded. As a Webmaster He was publishing www.dremi.info to create one community that loves free idealism. Very specialy in Design Category. Welcome to love it!



Read More......